![]() |
| Ilustrasi gambar : by ibbieducare |
EduCare - Santri, mari kita bahas, merupakan pelajar yang intens dalam kunjungan agama islam, dengan pesantren sebagai wadahnya. Santri kerapkali diidentikkan dengan sosok yang mumpuni dalam ilmu keagamaan atau sosok yang bijak dan kharismatik. Dengan mengijinkan tidak mengherankan jika sebagian besar masyarakat, entah di perkotaan atau di pedesaan kerapkali memberikan kepercayaan penuh, baik untuk memberikan tausiah, membimbing atau pun membacakan doa. Lebih dari itu, intensitas pembelajaran yang cukup padat dalam berbagai disiplin ilmu keagamaan, juga menjadi alasan kuat masyarakat memilih santri sebagai panutan.
Sayang, memulai era globalisasi, kiprah kelas pesantren mulai memuram di mata masyarakat umum. Di mata mereka, pesantren bukan lagi sebagai lembaga yang mampu menciptakan masyarakat “berpendidikan”, pesantren bukan lagi perundingan intelektual, dan bukan perancang pencipta kader yang tangguh dalam perundingan masa depan, mulai kompilasi PBB melalui UNDP menyediakan perizinan lebih banyak santri yang masuk kategori katagori huruf besar. Bahkan yang lebih miris lagi, kebanggaan santri sendiri terhadap pesantrenpun juga ikut memudar seiring perkembangan zaman. Globalisasi seakan menjadi momok bagi kelestarian pesantren.
Searus dengan Globalisasi, sistem pertumbuhan syariah juga meningkat yang cukup signifikan. realitasnya, tahun 2008 kemarin hingga awal tahun 2009 ini, sistem keuangan syariah menjadi satu-satunya sistem yang ampuh melawan badai keuangan dan resesi global yang diakibatkan oleh keserakahan Lehman Brothers, sebagai salah satu lembaga keuangan terbesar di Amerika. Ditingkatkan sebagian besar negara penganut sistem keuangan Ditingkatkan sebagian besar dari negara-negara lain dan negara-negara lain yang membutuhkan uang, uang, uang, uang tunai, uang tunai, uang tunai, uang tunai, uang tunai, uang tunai, uang tunai, uang tunai, uang tunai, uang, uang, uang, uang, uang, uang, uang, uang, pembayaran yang mampu menaungi kesulitan terbesar masyarakat di berbagai negara terhadap krisis finansial dan resesi global.
Sebagian besar pengamat dan pemain sekelas Amerika yang mengidap kapitalisme akut, juga mengungkap rasa ketertarikannya terhadap ekonomi syariah ini. Mengguritanya sistem keuangan syariah yang ditandai dengan minat investor pada perbankan syariah untuk investasi, atau membeli keuangan operasional bank syariah, yang pada Juli lalu bergerak pada kisaran 21,01 persen menjadi Rp 3,047 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya berkisaran Rp 2,518 triliun, dan atau menjamurnya bank konvensional yang meluncurkan layanan syariah, menjadi contoh yang tak dapat terbantahkan.
Namun demikian, mendukung atau tidak, sistem ekonomi syariah memang masih menyimpan berbagai kekurangan yang harus dibenahi. Ini penting jika memang perlu dari kalangan muslim — sebagai basis utama kembang ekonomi syariah — untuk menciptakan sistem ini, berlaku dan dapat diterima di ranah yang lebih universal, semisal Internasional. Diantara masalah yang masih betah menjangkiti perbankan syariah adalah minimnya Sumber Daya Manusia yang bisa mendapatkan kualitasnya masih jauh dari bara. Realitas ini dapat dilihat dari jumlah peminat pada program perbankan syariah di berbagai universitas di… .Indonesia…. yang masih berbicara tentang masyarakat yang sama sekali tidak berhubungan dengan bidang keagamaan. Langsung atau tidak, Implikasinya sangat jelas, sistem keuangan syariah yang diaplikasikan jika tidak dibarengi dengan wawasan keislam itu sendiri, akan membahas ketimpangan antara sistem yang dijalankan dan sistem yang sedang berjalan. Ini sangat beralasan mengingat masyarakat umum menilai tumbuh kembang ekonomi syariah bukan sebagai lahan dakwah atau media untuk mensyiarkan eksistensi fundamental islam yang sejatinya tak hanya berkutat dalam ihwal ibadah saja, sistem dalam islam juga menggerayang hingga keuangan. Mereka lebih suka mengembangkan kembang sistem ekonomi syariah sebagai lahan bisnis atau sekadar kendaraan untuk menyambung hidup yang kian erat meng-himpit.
Realitas tersebut, menggiring paradigma baru, yaitu, ada peluang yang begitu luas untuk pesantren untuk globalisasi yang kian ganas menggilas eksistensi dan paradigma masyarakat yang skeptis terhadap pesantren. Meskipun, arena global yang telah terpampang didepan, bukan lagi rintangan untuk pesantren, sebaliknya, globalisasi dapat mengubah peran menjadi panggung untuk berkompetensi dan tempat ajang berekspresi hakikat pesantren. Pengetahuan ilmu fiqh yang memadai merupakan suatu keistimewaan yang laik jual dan dapat dipasarkan, baik di kancah domestik, regional maupun internasional. hal ini akan sangat berguna bagi tumbuh kembang perbankan syariah di satu sisi dan komposisi gambar baru para santri di sisi lain: mendukung santri tidak hanya bisa menerima, membaca tulisan arab atau memainkan tasbih belaka, juga bisa berbisnis dengan tidak sesuai prinsip-prinsip keislaman.
Disamping itu, salah satu modal yang bisa “dijual” adalah santri yang luas, yang dimiliki. Modal tersebut menjadi satu alasan kuat untuk meningkatkan keahlian perbankan syariah yang profesional dengan pengaplikasian keunggulan layanan, aspek hukum dan manajemen risiko, Keterampilan yang hingga kini masih mejadi impian belaka. Moralitas dan sikap terbuka yang telah dipupuk di pesantren, bahkan dapat membantu membudaya, juga menjadi nilai lebih yang berguna jika diaplikasikan dalam ranah perbankan. Moralitas tersebut mampu menjadi — laiknya pasar oligopoli — konsep berbeda dengan pelayanan bank konvensional yang cendrung berkomunikasi dengan pola pikir materialistis.
Jika kalangan santri memanfaatkan peluang ini dengan sebaik mungkin, berhasil perbankan syariah dalam bersaing dengan perbankan konvensional yang telah lebih dulu melangkahi, bukan sebuah kenistaan lagi. Minimalisasi manajemen risiko yang hingga kini masih megap-megap dalam ranah konsep dan retorika, juga akan mampu teraplikasi dalam ranah interaksi jika antar santri dan sistem ekonomi syariah mampu bersinergi dengan mungkin. Untuk mewujudkannya, tentu saja memudahkan, namun hal ini tidak juga berarti mungkin tujuan-tujuan luhur ini terwujud. Semua membutuhkan proses.




0 Komentar