IbbiEducare - Sepintas melihat sebuah tulisan yang terpajang dipojok kiri, sebelah warung tempat saya duduk berteduh karena hujan. Terkesan tulisan itu begitu menghipnotisku, seakan-akan membuatku tak ingin beranjak pergi dari tempat duduk.

Tulisan yang dengan ukuran relatif besar terpajang dibingkai iklan sebuah produk yang biasanya terjual ditoko-toko atau alfamart. Hanya saja, saya beranggapan bahwa tulisan itu sebuah slogan motivasi yang sengaja ingin disampaikan pada kita. Slogan atau tulisan itu bertuliskan "BERMIMPI MELIHAT KEATAS, BERSYUKUR MELIHAT KEBAWAH".

Mungkin, orang yang duduk disampingku hanya melihat dengan sepintas atau mungkin hanya dia yang tidak melihatnya. Tapi, bagi saya, slogan itu terkesan seakan-akan ingin menyampaikan bahwa. Boleh saja kita bermimpi untuk menjadi orang sukses, bermimpi menjadi orang kaya yang terkadang dengan segala cara untuk mewujudkannya boleh melakukan segala sesuatu asalkan nanti kita bisa kaya.

Tak peduli lagi apa yang dilakukan itu halal atau haram. Seperti kebanyakan orang mengatakan, demi mencapai keinginannya yang halal diharamkan yang haram dihalalkan. Seperti, makan daging babi haram, tapi karena sudah ingin mengenyangkan perut, maka yang harampun hilang seketika. Contoh lagi, kita bermimpi ingin makan disebuah restoran/cafe yang enak masakannya segala hidangan dihidangkan, kita ingin tinggal disebuah hotel berbintang/rumah yang dengan segala fasilitasnya terpenuhi. Atau mungkin, kita ingin naik pangkat jabatan yang strategis tempat kita bekerja yang nantinya dengan segala pengendaliannya kita bisa melakukan apa saja sesusai keinginan kita. Tapi, ketika itu semua tercapai. Kita masih merasa kurang dan masih belum puas.

Pikiran kita masih dipenuhi berbagai target dan keinginan. Kita begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, jabatan tinggi, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang.Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kitapun terus memikirkannya.Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "kaya" dalam arti yang sesungguhnya. Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang "kaya".

Syafii Efendi seorang Wirausahawan Muda menjelaskan dalam bukunya. "Orang yang KAYA bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki". Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan yang tak pernah membuat kita tentram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki saat ini.

Tapi, sadarkah kita ketika mengingat tulisan slogan tadi "Bersyukur melihat kebawah". Sesungguhnya, dengan kata-kata yang sesederhana itu, ia ingin menyampaikan dan mengingatkan kepada kita bahwa pentingnya kita untuk selalu bersyukur melalui cara membantu ataupun bersedekah bagi ia yang tak mampu. Seandainya kita berani mengingat,berintrofeksi diri, bahwa ternyata masih banyak orang dibawah kita yang menunggu bantuan dan uluran tangan kita. Bukankah ketika kita berani membantu dan menolong bagi ia yang tidak mampu, disitulah letak kita dalam menikmati hidup.
Pusatkanlah perhatian kita pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, atau bahkan orang-orang disekitar kita. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Saya pernah membaca sebuah novel, yang didalamnya ada ungkapan seperti ini. "Menikahlah dengan orang yang kita cintai, setelah itu cintailah orang yang kita nikahi". Bukankah itu semua suatu perwujudan dari rasa syukur.

Ketika rasa syukur, bersedekah, rasa kegotong royongan, atau membantupun hilang. Maka, apalah indahnya mimpi-mimpi kita semua ini. Ketika mimpi kita itu tercapai, lerlu adanya keseimbangan yang selalu diiringi oleh rasa bersyukur agar nantinya niat kita untuk membantu dan bersedekah itu tetap indah. Sebab, tanpa bersyukur dengan apa yang kita miliki dan tanpa membantu kepada sesama akan membawa kita pada lembah kesombongan yang berakibat dekatnya kita pada kekhufuran (Na'uzhubillah). Orang madurapun berkata "Senga', mon ngabhes ajje' lakoh ngabhes ka attas tako' tabheleccar", yang artinya (Awas, kalau melihat jangan selalu melihat keatas takut jatuh atau takut tergelincir). Jatuh atau tergelincir itu mengibaratkan sebagaimana kita bermimpi menjadi orang kaya tapi ingat, dibawah kita ternyata masih ada orang miskin yang perlu kita bantu.

Bahagia tersebut dapat dilakukan karena kita selalu bersyukur atas semua karunia dan anugerah Allah SWT tentang kehidupan kita didunia ini. Dengan bersyukur, semoga kita akan lebih bersemangat lagi untuk melakukan hal yang positif dan menjauhi hal yang negatif. Hal positif lebih membawa kita pada proses menuju kesuksesan (be positif thinking).


Admin